Melakukan aktivitas olahraga di wilayah dengan ketinggian tertentu memberikan tantangan fisiologis yang unik bagi setiap individu, terutama bagi para mahasiswa yang aktif berkompetisi. Di kawasan Pulau Samosir yang dikelilingi oleh perbukitan, para atlet harus memiliki strategi khusus agar metabolisme tubuh tetap stabil meski kadar oksigen cenderung lebih tipis dibandingkan wilayah pesisir. Lingkungan yang asri ini memang memberikan keuntungan tersendiri, di mana terdapat pengaruh pemandangan alam Samosir yang terbukti mampu menjaga kesehatan mental para pejuang olahraga. Namun, proses adaptasi oksigen tetap menjadi prioritas utama bagi Bapomi Samosir agar para atlet dapat sesuaikan durasi latihan secara bertahap, sehingga performa tetap maksimal tanpa harus membebani kerja jantung secara berlebihan di medan dataran tinggi tersebut.
Kondisi udara di dataran tinggi menuntut paru-paru untuk bekerja lebih keras dalam mengikat oksigen guna disalurkan ke seluruh jaringan otot. Bagi atlet yang belum terbiasa, memaksakan intensitas latihan yang sama dengan di dataran rendah dapat memicu gejala sesak napas atau pusing yang mendadak. Oleh karena itu, Bapomi Samosir menerapkan program aklimatisasi yang terukur. Pada minggu-minggu awal, durasi latihan fisik dikurangi namun frekuensinya tetap dijaga agar sistem pernapasan mulai beradaptasi dengan tekanan udara lokal. Proses ini secara alami akan merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah, yang pada akhirnya justru akan meningkatkan daya tahan kardiovaskular atlet saat mereka bertanding di tempat lain.
Penyesuaian durasi latihan juga melibatkan pengaturan ritme latihan beban dan latihan aerobik. Di Samosir, para pelatih menekankan pentingnya pemanasan yang lebih panjang untuk memastikan suhu tubuh naik secara perlahan dan pembuluh darah melebar dengan optimal. Mahasiswa diajarkan untuk mendengarkan sinyal tubuh mereka; jika detak jantung melonjak terlalu cepat melebihi batas normal saat jogging ringan, itu adalah tanda bahwa tubuh membutuhkan waktu istirahat lebih lama di sela-sela set latihan. Kedisiplinan dalam mengatur volume latihan ini sangat krusial untuk mencegah terjadinya sindrom kelelahan kronis yang sering dialami oleh atlet yang terlalu berambisi tanpa memperhatikan kondisi lingkungan.